Cinta Itu Nikmat Tapi Awas
Cinta itu indah,nikmat,enak, sedap, syurga, penawar, dan yang sama waktu dengannya..
Keagungan cinta terletak pada keindahan persahabatan yang terjalin antara dua teman yang saling menyayangi antara satu sama lain.
Cinta yang disulami keikhlasan, kejujuran, kesetiaan, kasih sayang, & pengorbanan yang sangat dahsyat terlalu sukar untuk ditemui. Satu dalam sejuta…
cinta pada bunga,bunga kan layu…
cinta pada manusia,manusia kan mati…
cinta pada-NYA adalah cinta yang hakiki..
cinta sebenarnya salah satu dugaan…so harungi lah ia dengan penuh kesyukuran..jangan hanya tau bercinta tanpa mengerti apa2..
cinta itu indah
bila dua hati berpaut
namun cinta itu buta
bila nafsu menyelubungi hidup..
betapa perit bila dilukai
betapa seksa bila disakiti
hanya pada allah saja tempat meluah segalanya
Jika kamu mencintai seseorang, bebaskanlah dia. Jika dia kembali kepadamu,maka dia adalah milikmu. Jika tidak, maka dia tidak akan pernah jadi milikmu”. Bahkan dalam hubungan percintaan, seseorang perlukan ruang untuk dirinya sendiri. Jika kita mahu belajar untuk mencintai, pertama kita harus belajar untuk memaafkan dan melupakan masa lalu yang buruk serta kedukaan hati kita. Mencintai bererti melepaskan rasa takut, curiga, dan ego.
“Hari ini aku melepaskan semua rasa takutku, masa lalu tidak akan
dapat mempengaruhiku- hari ini adalah lembaran baru bagi hidupku....
Jangan Terjebak dengan cinta di bawah sebelum berkahwin..Kalau dah kawhwin tak pe lah..buat jak apa mo buat..hehehe..
C - Ciuman adalah mulanya
I - Iman adalah dasarnya
N - Nafsu adalah sebabnya
T - Tempat adalah terjadinya
A - Anak adalah hasilnya
gila ehh....
Memaparkan catatan dengan label cinta. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label cinta. Papar semua catatan
Rabu, 28 Januari 2009
Rabu, 17 Disember 2008
Cinta pandang pertama
Cinta...
Adakah manusia yang mengaku dirinya bukan seorang pecinta?
Bagai pujangga mereka menebarkan kata-kata indah
Namun...
Sesungguhnya cinta yang indah adalah cinta pertama
Tak lapuk sepanjang masa, indah terpatri di jiwa
Lunglai...
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah.
Tak lama, sosok mungil itu ada di dalam dekapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hati tercinta. Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.
Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam, pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Yang dirindukan pun sedikit menggeliat.
SubhanaLlah, betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Allah.
Mata kecilnya memang belum bisa melihat dengan sempurna, namun nalurinya berkata, dirinya berada di tangan seseorang yang sangat mencintainya.
Elusan lembut dan sapaan yang sering terdengar saat masih di dalam rahim, kini dapat dirasakan. Aura cinta pun memancar dari kedalaman hati seorang ibunda, menyelimuti sang buah hati yang baru saja menyapa dunia dengan lengkingan tangisannya.
Indah, bahkan teramat indah...
Cinta ibunda memang cinta yang paling indah. Cinta itu selalu ada di sisi mereka, dan tiada pernah ragu untuk dilimpahkannya. Mereka-lah yang tak pernah kenal lelah menjaga dan membesarkan kita semua. Bahkan ketika kita belum mengenal sepatah kata, ibunda jua yang mengajarkan tentang makna kasih sayang dan cinta.
Adakah cinta yang dapat menyaingi cinta seorang ibunda?
Betapa dengan kasihnya, masa kehamilan dilewati dengan keikhlasan dan kesabaran. Perasaan mual, pusing, ditambah dengan membawa beban di perutnya yang semakin hari semakin berat, hingga saat antara hidup dan mati ketika melahirkan, tak akan dapat tergantikan oleh cinta-cinta lain yang penuh kepalsuan.
Ibunda pun bagaikan pelabuhan cinta bagi anak-anaknya. Kerelaan mereka untuk sekedar disinggahi, lalu ditimbun dengan segala resah dan gundah, bahkan amarah, hanya dibalas dengan senyum kesabaran. Tak heran, seorang ibunda sanggup memelihara sedemikian banyak anak yang dilahirkannya, namun belum tentu satu anakpun bersedia menjaga dirinya hingga beliau tutup usia.
Aaah...
Rasanya kita semua pernah mengalami jatuh cinta. Dan cinta pertama itu selalu terhatur pada seseorang yang selalu berada di samping kita, tempat curahan suka dan duka. Ketika lapar, dengan tangannya ia menyuapkan makanan, diberikannya air susu dengan tulus saat kita haus, hingga diajarkannya berakhlak mulia bagaikan RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam, uswatun hasanah.
Ibunda memang bukan hanya madrasah pertama bagi anak-anaknya, tapi mereka-lah cinta pertama kita.
Dan apakah ada cinta yang paling indah daripada cinta pertama...huhuhuhu....
Adakah manusia yang mengaku dirinya bukan seorang pecinta?
Bagai pujangga mereka menebarkan kata-kata indah
Namun...
Sesungguhnya cinta yang indah adalah cinta pertama
Tak lapuk sepanjang masa, indah terpatri di jiwa
Lunglai...
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah.
Tak lama, sosok mungil itu ada di dalam dekapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hati tercinta. Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.
Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam, pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Yang dirindukan pun sedikit menggeliat.
SubhanaLlah, betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Allah.
Mata kecilnya memang belum bisa melihat dengan sempurna, namun nalurinya berkata, dirinya berada di tangan seseorang yang sangat mencintainya.
Elusan lembut dan sapaan yang sering terdengar saat masih di dalam rahim, kini dapat dirasakan. Aura cinta pun memancar dari kedalaman hati seorang ibunda, menyelimuti sang buah hati yang baru saja menyapa dunia dengan lengkingan tangisannya.
Indah, bahkan teramat indah...
Cinta ibunda memang cinta yang paling indah. Cinta itu selalu ada di sisi mereka, dan tiada pernah ragu untuk dilimpahkannya. Mereka-lah yang tak pernah kenal lelah menjaga dan membesarkan kita semua. Bahkan ketika kita belum mengenal sepatah kata, ibunda jua yang mengajarkan tentang makna kasih sayang dan cinta.
Adakah cinta yang dapat menyaingi cinta seorang ibunda?
Betapa dengan kasihnya, masa kehamilan dilewati dengan keikhlasan dan kesabaran. Perasaan mual, pusing, ditambah dengan membawa beban di perutnya yang semakin hari semakin berat, hingga saat antara hidup dan mati ketika melahirkan, tak akan dapat tergantikan oleh cinta-cinta lain yang penuh kepalsuan.
Ibunda pun bagaikan pelabuhan cinta bagi anak-anaknya. Kerelaan mereka untuk sekedar disinggahi, lalu ditimbun dengan segala resah dan gundah, bahkan amarah, hanya dibalas dengan senyum kesabaran. Tak heran, seorang ibunda sanggup memelihara sedemikian banyak anak yang dilahirkannya, namun belum tentu satu anakpun bersedia menjaga dirinya hingga beliau tutup usia.
Aaah...
Rasanya kita semua pernah mengalami jatuh cinta. Dan cinta pertama itu selalu terhatur pada seseorang yang selalu berada di samping kita, tempat curahan suka dan duka. Ketika lapar, dengan tangannya ia menyuapkan makanan, diberikannya air susu dengan tulus saat kita haus, hingga diajarkannya berakhlak mulia bagaikan RasuluLlah SallaLlaahu Alayhi Wasallam, uswatun hasanah.
Ibunda memang bukan hanya madrasah pertama bagi anak-anaknya, tapi mereka-lah cinta pertama kita.
Dan apakah ada cinta yang paling indah daripada cinta pertama...huhuhuhu....
Langgan:
Catatan (Atom)